Selasa, 16 November 2010

Kisah Serigala 2

Bila kisah serigala 1 dimulai dengan seorang pejantan, kini kisah serigala 2 dimulai dengan serigala Ethiopia betina yang anggun.

Tersebutlah sebuah kawanan serigala yang dipimpin oleh seekor betina dominan di sebuah padang rumput Ethiopia yang luas. Kawanan tersebut terdiri dari sedikit betina dan banyak jantan. Para betina yang tinggal pun masih remaja, betina dominan itu adalah ibu mereka.
Seekor serigala betina yang paling tua, bernama Syafa, sudah berhari-hari dia diawasi gerak-geriknya oleh ibunya, karena sebentar lagi dia dewasa, dia harus segera meninggalkan kawanan begitu dia mencapai usia dewasa.
Hari-hari berlalu, semakin dewasa pula ia, ketika dia mau mengajak main ibunya, ibunya mulai menunjukkan tanda-tanda agresif kepadanya, takut disaingi olehnya. Tapi karena Syafa belum mengerti dan pikirannya masih anak-anak, ibunya meladeninya dan memanggil adik-adiknya untuk ikut bermain.
Beberapa hari berlalu, tanda-tanda kedewasaan Syafa semakin jelas, para pejantan mulai sesekali meliriknya bila tidak ada ibunya, Syafa sudah semakin mahir berburu, lebih mahir daripada saudara dan saudarinya yang masih kebingungan untuk memburu marmut.
Dia pun semakin dikecam oleh ibunya, kini dia mengerti, dia harus secepatnya pergi dari kawanannya, rumahnya, dan juga dari saudara-saudarinya.
Suatu hari, Syafa memilih untuk berburu sendiri, dia mulai berlatih untuk hidup sendiri, untuk jaga-jaga bila saatnya dia hidup mengembara. Dia juga mulai belajar untuk tidur jauh dari kawanannya. Dan suatu ketika, dia memutuskan untuk pergi karena dia juga sudah tidak tahan oleh geraman mengancam dari ibunya yang menyuruhnya untuk pergi. Saudara dan saudarinya yang mulai dewasa sempat mengejarnya untuk menahannya dan mengajaknya bermain, tapi Syafa menolak dan memberikan sentuhan hidung kepada mereka sebagai tanda selamat tinggal, dia tidak akan pernah kembali ke kawanan itu lagi.

Berhari-hari sudah Syafa berkelana, tanpa makanan, hanya sedikit minum dan tidur. Bisa minum dari genangan air saja dia sudah bersyukur, dia tidak berani tiba-tiba muncul di sungai dan menurut pengalaman mengamatinya, minum di sungai sangat berbahaya, bisa disambar buaya, sehingga dia lebih memilih untuk minum dari genangan air atau sisa-sisa air hujan yang menggenang di lubang-lubang bebatuan. Tidur juga jarang nyenyak, sesekali dia bangun kalau telinganya mendengar suara-suara kerbau yang gelisah akan dirinya, dan dia akan pindah dari tempat tidurnya.
Suatu ketika, dia mencium suatu bau yang dia harapkan dari dulu, bau serigala lain. Dia berlari dan naik ke bukit batuan, tempat dia bisa melihat padang rumput luas di depannya. Benar saja, kumpulan serigala sedang berjaga-jaga di wilayah mereka, tapi dia bingung, kawanan serigala ini sangat berbeda dari kawanan ibunya, memang yang memimpin seekor betina, tapi jumlah betina dan jantannya relatif sama. Banyak serigala betina dewasa maupun remaja di kawanan itu, dan tampaknya semuanya damai-damai saja.
Lalu dia melihat ke salah satu serigala yang sedang diam saja, di depannya ada lubang marmut, begitu marmut menjulurkan kepalanya, dia langsung menyambarnya dan memakannya, untuk dirinya sendiri. Lalu Syafa melihat ke yang lain, tiga ekor serigala sedang mengitari kawanan kerbau, mereka berjalan perlahan, seakan-akan sedang memikirkan sesuatu, lalu mereka pergi dan menghampiri serigala yang sedang makan marmut itu. Serigala yang sedang makan itu membiarkan mereka menghampirinya, tapi ketiga kawannya itu tidak mengambilnya, hanya memperhatikannya, setelah itu mereka pergi ke kumpulan dan meminum dari sungai yang sangat kecil tapi airnya melimpah.  Syafa sangat bingung dengan perilaku kelompok ini, semuanya tampak tidak ada pemaksaan, tampak ramah, dan itu membuat Sayfa ingin bergabung dengan kawanan ini, tapi dia ragu-ragu dikarenakan dia takut. Dia takut dia akan diusir lantaran dia betina, dia masih teringat dengan perlakuan di kawanannya yang dulu.

Akhirnya dia hanya bida memandangi salah seekor pejantan yang dari tadi makan marmut, dia sudah selesai, dan kini dia menunggu lagi di dekat lubang itu, dan berhasil menangkap marmut lagi. Syafa mempelajari hal itu, segera ketika menjelang sore dan pejantan itu pergi, dia pergi ke lubang itu, mencoba tekniknya, dan berhasil! Akhirnya dia makan setelah tidak makan selama berhari-hari.

Ketika itu, dia menyadari kalau kawanan itu sudah memperhatikannya, tapi mereka membiarkan dia untuk makan, tapi Syafa tidak mau mengambil risiko, dia menyeret makanannya ke atas bukit , dia tidak mau ada kontroversi antara dia yang sendirian ini melawan sekawanan besar serigala dewasa yang sudah mahir dalam bertarung, sedangkan dia masih belum terbiasa bertarung.
Tepat ketika malam hari, dia selesai makan, dia minum dari genangan air lagi, dan berusaha untuk tidur di atas bukit batuan itu. Tapi tiba-tiba ada seekor pejantan yang menghampirinya, itu jantan yang memakan marmut tadi, ternyata pejantan itu sudah lama memperhatikan Syafa dari kejauhan, nama pejantan itu Adhany, dia merupakan pejantan yang baru dewasa juga, seperti Syafa, dan dia juga suka makan marmut.
Adhany mengajak Syafa untuk tidur di kawanannya, tapi Syafa menolak, memilih untuk tidur sendirian malam itu, tapi Adhany tidak mau jauh-jauh dari dia, sehingga Adhany tidur di luar kawanan, di bawah bukit batuan tempat Syafa tidur.
Keesokan harinya, ketika Syafa bangun dan sudah selesai makan marmut lagi, Adhany kembali menghampirinya, Syafa sempat takut apa dia akan diserang atau diusir dari wilayah itu, padahal wilayah itu sangat enak, lubang marmut di mana-mana, mau makan kerbau juga tinggal pilih, Syafa tidak rela pergi, tapi itu bukan wilayahnya dan bukan kawanannya, maka dari itu Syafa pasrah kalau Adhany mau mengusirnya.
Tapi ternyata, Adhany malah mengajaknya bergabung dengan kawanannya, betapa senangnya Syafa akan hal itu, dia terlalu girang hingga tidak sadar dia berlari ke Adhany dan menjilatinya. Adhany bingung akan hal itu dan memberinya sentuhan hidung selamat datang, tanda bahwa dia diterima di kawanannya, tapi itu baru sepihak dari dia.
Adhany mengajak Syafa ke kawanannya, Syafa takut-takut ikut di belakang Adhany yang ukuran tubuhnya lebih besar darinya, hingga menutupinya. Di kawanan itu, Syafa hanya ragu-ragu dan berjalan ringan, siap-siap kabur kalau dia tidak diterima. Tapi ternyata kawanan Adhany menerimanya dengan antusias, bahkan betina dominan pimpinan kelompok hanya diam saja walaupun secara rahasia mengawasinya dengan ketat.
Setiap hari Syafa hanya mau berada di dekat Adhany, dia masih belum berani kalau ditinggal sendiri di kawanan. Adhany makin lama semakin dekat dengan Syafa, dan akhirnya mengajak Syafa untuk menjadi pasangannya, tentu saja Syafa mau, tapi dia takut karena mereka bukanlah pasangan dominan di kelompok itu.

Hingga suatu kejadian menimpa kelompok itu, kebakan hutan yang besar merenggut wilayah mereka, semuanya hangus dan beberapa anggota mereka tewas dalam kebakaran hutan akibat sambaran petir itu.
Yang paling membuat semuanya terpukul, betina pimpinan mereka juga tewas ketika melindungi semuanya, mereka pun memutuskan untuk bergeser sementara hingga wilayah itu pulih kembali.
Namun sebelum kebakaran itu, Adhany dan Syafa ternyata sudah mempunyai anak secara diam-diam, tiga ekor, dua betina satu jantan, dan sekarang mereka adalah pimpinan kelompok itu, Adhany memimpin semuanya, Syafa dengan bangga berada di samping Adhany, dan ketiga anak mereka berjalan dengan lucu ke barisan anggota.
Semuanya berakhir bahagia, ketiga anak itu berhasil tumbuh dewasa di tengah-tengah kelompok yang sangat kuat, Syafa dan Adhany terus mempertahankan kelompok itu dengan dukungan anggota yang super, dan generasi kelompok itu pun terjaga karena jarang terjadi pengusiran anggota.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar