Minggu, 02 Oktober 2011

FF~ Best Friends

My First FF here! XD
disclaimer ok? I don't own anyone in this FF, they belong to themselves and God
Enjoy, Critics and Comments please! ^_^

Tokoh: Super Junior Kyuhyun & Ryeowook
genre: sad, friendship
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Kita bertemu pertama kali… itu 15 tahun yang lalu…

Aku sedang dikerjai oleh anak-anak yang lebih besar, hanya karena badanku lebih kecil dari mereka, karena aku cengeng, karena aku pintar memasak. Aku hendak berteriak dan menangis sekencang-kencangnya ketika kau datang. Tubuhmu tinggi dan kulitmu putih, tatapan matamu yang tajam cukup membuat mereka semua terpaku di tempat mereka. Hanya satu kata “PERGI” dan mereka langsung lari.
Kau menarikku, dan membantuku berdiri. Aku menangis tak henti-hentinya, tapi aku langsung diam ketika mulutku tiba-tiba dingin, aku lihat kau memasukkan sebuah es krim ke mulutku, dan kau tersenyum.
“Jangan nangis! Udah kubagi es krim!” katamu dengan senyum lebar, aku terbengang-bengong dan mengemut es krim itu. “Namaku Cho Kyuhyun, kamu?”
“Kim… Ryeowook,” jawabku setelah berhasil menelan sebagian besar es krim.

Sejak saat itu, kita berteman baik…

“Wookie, bikin janji yuk!” ajakmu ketika kita sedang makan es krim setelah bermain bola seharian.
“Janji apa?” tanyaku bingung sambil menjilat es krim.
“Kalau kita akan menjadi sahabat untuk selama-lamanya!” katamu bersemangat, aku tersenyum lebar mendengar perkataanmu.
“Janji!” kataku senang.
“Yap! Janji!”

Kita masuk SMP…

“Ya! Ryeowook ah!” aku menoleh, kulihat kau berlari ke arahku, dengan seragam SMP lengkap, seragam yang sama seperti yang sedang kupakai sekarang.
“Kyuhyun-ah!” panggilku juga sambil melambaikan tangan, kau berhenti tepat di depanku sambil terengah-engah.
“Ya! Seragam itu cocok padamu!” pujimu sambil tersenyum riang.
“Kamu juga!” balasku.
Aku sempat berpikir kau bercanda, karena aku tahu seragamku agak kebesaran, tidak seperti seragammu yang sangat pantas kau pakai, badanmu tinggi Cho Kyuhyun, tidak sepertiku. Tapi kau malah merapikan seragamku, melipat bagian yang kebesaran dan langsung membawaku ke cermin terdekat.
“Tuh kan! Kubilang apa, Kim Ryeowook pasti tampan di seragam SMP!” katamu sambil merangkulku. “Dan badanmu sudah nambah tinggi!”
Aku tertawa saja mendengar perkataanmu, yang bisa membuatku tertawa seperti ini hanya kau, Cho Kyuhyun, karena kau adalah sahabatku.

Kita adalah sahabat, dari SD, dan kita pun masuk SMA…

Perbedaan di antara kita menguat, dirimu yang semakin tampan, tinggi, dan kulihat kau punya banyak fans. Sedangkan aku yang pendek, tubuhku kurus, dan pastinya aku tidak sepintar dirimu. Sering aku merasa jarak di antara kita itu jauh, tapi kau selalu datang dan meluangkan waktu untuk bermain denganku. Sering kau ajak aku bermain basket agar tubuhku bertambah tinggi, dan memberikan semua sayuran di makan siangmu kepadaku, alasannya agar aku dapat banyak nutrisi, padahal aku tahu kalau kau tidak suka sayur.

Usia kita bertambah, dan kita semakin dewasa…

Aku memiliki seorang kekasih, aku sangat mencintainya. Kau masih melajang, karena kau bilang kau belum menemukan yeoja yang tepat untukmu.
Tapi, kenapa aku melihatmu berpelukan dengan kekasihku? Hari itu, ketika aku pulang sekolah, aku hendak pergi ke taman tempat biasanya aku dan kekasihku berkencan, tapi kenapa aku mendapati kalian sedang berpelukan? Apa-apaan ini?
Kau melihatku, dan langsung melepas yeoja itu dengan sedikit kasar, aku tidak tahu apa arti dari raut wajahmu itu. Marah? Kesal? Sedih? Menyesal? Aku tidak bisa tahu, aku tidak tahu Kyuhyunnie, kenapa kau melakukan ini kepadaku?
“Ada apa tadi?” tanyaku dengan nada datar, aku terlalu bingung dan marah untuk berbicara banyak.
“Oppa…” kekasihku berdiri dan belari ke arahku, dengan tangis dia meminta maaf, dan menuduhmu telah memeluknya dengan paksa.
Kau menatapku, dan aku menatapmu, mata kita bertemu. Aku marah padamu, tidak sadar aku memukulmu dan langsung meninggalkanmu.

Penyesalan… kenapa selalu datang terakhir?

Hingga lulus SMA kita tidak pernah berbicara lagi, kita bagaikan orang asing satu sama lain. Setelah lulus SMA aku tidak pernah melihatmu lagi, aku tidak bisa melihatmu di taman tempat dulu kita sering bermain, kau tidak pernah ada di lapangan bola tempat biasanya kita main bola atau lomba lari, lapangan basket kosong, tidak ada dirimu.
Aku masih marah padamu atas apa yang kau perbuat kepada kekasihku, tapi aku merasa kosong, ini hampa. Kenapa rasanya ini semua salah? Kenapa rasanya ini bukan salahmu?
Jawabannya datang begitu saja, ketika aku tidak sengaja mendengar percakapan kekasihku, dengan beberapa temannya di kampus.
“Aku dengar Kyuhyun menghilang ya? Itu namja satu ke mana ya? Padahal masih jadi incaranku,” kata salah satu suara yang tidak kukenal.
“Sekarang kamu stuck sama Ryeowook deh, Kyuhyun udah pergi,” kata yang satu lagi, aku kembali mendengarkan.
“Iya, padahal dulu aku sudah bisa meluk Kyuhyun, eh malah dia muncul, buyar deh semuanya,” aku mengenal suara yang ini…
“APA MAKSUDMU?!” tanpa sadar aku membentaknya, keluar dari persembunyianku. Teman-temannya lari karena takut.
Dia menatapku, dengan tatapan penuh ketakutan, “Oppa…” panggilnya dengan nada memelas, tapi telingaku sudah kebal sekarang.
“Jelaskan perkataanmu tadi!” bentakku lagi, aku tidak peduli dengan orang-orang yang mulai mengelilingi kami.
“Oppa… mian oppa, aku nggak bermaksud…”
“Jadi selama ini… ini semua salahmu? Kyuhyun nggak salah apa-apa? BEGITU?!” aku kembali membentaknya, aku bisa merasakan mataku mulai memanas.
“Oppa….”
“JANGAN PANGGIL  AKU OPPA LAGI!”
Aku langsung berlari, berlari entah ke mana. Aku harus mencarimu, Kyuhyun….

Aku pergi ke rumahmu… rumahmu yang tiga tahun sudah tidak pernah kudatangi…

Aku disambut Ny. Cho, dia kaget melihatku datang sambil terengah-engah. Dia memandangiku aneh, segera aku menanyakan tentang dirimu.
“Kyuhyun? Ah… sebentar… KYUNNIE!” Ny. Cho memanggilmu, lalu menyuruhku untuk masuk.
Ny. Cho berlari ke dalam, untuk memanggilmu, aku duduk di sofa, walaupun rasanya sangat tidak nyaman.
Jantungku berdetak kencang karena aku takut kau marah padaku. Dan jantungku nyaris berhenti ketika melihatmu turun dari tangga, menatapku, aku tidak bisa mengartikan tatapanmu itu. Saat itu juga aku berdiri, memperhatikanmu yang bertahun-tahun ini tidak kulihat. Mata kita kembali bertemu, tanpa sadar aku telah menangis.
Kau melangkah ke arahku, aku tidak tahu aku harus bilang apa, rasanya kata maaf sudah tidak berguna di sini. Aku menunduk, pasrah kalau kau ingin membalas pukulanku yang dulu itu. Tapi aku malah merasakan genggaman kuat yang hangat di bahuku, kuangkat kepalaku, dan kulihat kau tersenyum ke arahku, matamu berair pula.
“Mianhae, Kyuhyun-ah…” hanya itu kata yang bisa keluar dari mulutku.
“Aniya, harusnya aku yang minta maaf,” katamu,  kau masih baik seperti dulu, kenapa ada sahabat yang sangat baik sepertimu?
Kita pun kembali berbaikan, kembali bersahabat seperti dulu…

Kenyataan itu menyakitkan, kenapa harus selalu begitu?

“Katakan kau bercanda Kyuhyun-ah!” air mataku tidak bisa berhenti mengalir.
“Itu kenyataannya Wookie, karena itu aku berhenti sekolah,” jawabmu, nadamu bergetar, berusaha menahan tangis.
Aku tidak bisa percaya, ternyata alasanmu jarang terlihat selama beberapa tahun ini karena… kau sakit. Kau sakit parah, dan itu menyebabkanmu tidak bisa pergi ke sekolah lagi, kau memaksakan diri untuk tetap lulus SMA. Kulihat dirimu, kulitmu semakin pucat, dan sedikit kurus.
“Tapi aku lega Wookie,” katamu halus, sambil tersenyum kepadaku. “Kukira aku akan pergi tanpa dirimu sama sekali, tapi aku senang kita berbaikan, dengan begini mungkin aku bisa pergi dengan tenang.”
“Jangan bicara seperti itu! Kau nggak akan mati secepat itu! Ingat janji kita yang dulu!”
“Aku masih ingat Kim Ryeowook,” katamu lagi, masih sambil tersenyum. “Kita akan terus bersahabat, walau dunia kita sudah berbeda…”

Hari itu datang, kenapa harus secepat itu?

Kau meninggal kemarin, kemarin adalah tepat satu bulan setelah kita berbaikan lagi. Aku memandangi nisan yang masih baru itu, di atasnya tertulis namamu, CHO KYUHYUN. Aku berusaha menahan tangisku, aku tahu sekarang sudah tidak ada kau yang akan memberiku es krim setiap kali aku menangis, aku harus kuat.
Semuanya sudah pergi, sekarang tinggal aku sendiri di sini. Lama-kelamaan aku tersenyum sendiri, mengingat janji kita yang dulu itu.
“Kyuhyunnie, dalam kehidupan berikutnya, semoga kita juga menjadi sahabat! Tepati janji kita!” ujarku sambil mengelus nisanmu, aku bisa merasakan dirimu, ada di dekatku.

XX

Puluhan tahun kemudian…

Seorang anak menangis di taman, tubuhnya kotor dan penuh luka-luka, air matanya tak berhenti mengalir. Dia baru saja dikerjai oleh anak-anak lainnya, karena dia pendek dan kecil, serta lemah tidak seperti yang lain.
“Ya! Jangan menangis!” seorang anak tinggi memberikan es krim kepadanya, dengan senyuman yang terlihat nakal tapi sangat tulus.
Anak yang menangis itu terdiam dan akhirnya menerima es krim itu, anak tinggi itu duduk di sebelahnya sambil memakan es krimnya sendiri.
“Jangan menangis lagi, kan’ udah kukasih es krim!” katanya bersemangat.
“Ne, gomawo,” kata yang kecil sambil menjilati es krimnya.
“Namamu siapa? Cho Kyuhyun imnida!” kata anak yang tinggi sambil menyodorkan tangannya.
“Kim Ryeowook imnida,” dan mereka berjabat tangan.
Saat itu sensasi aneh mengaliri mereka berdua, suatu perasaan rindu, juga sedih dan sendu, mengaliri tubuh mereka, tak urung air mata mereka berdua mengalir.
“Ah…” anak yang bernama Kyuhyun mengelap air matanya. “Kenapa aku menangis?”
“Aku juga nggak tahu, aku juga nangis…” kata Ryeowook sambil mengelap air matanya, lalu mata mereka kembali bertemu.
Keheningan nampak sejenak di antara mereka berdua, perasaan yang terus mengalir itu kerap merasuki tubuh mereka. Keduanya melihat diri masing-masing, sensasi familiar muncul di benak mereka.
“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya Kyuhyun.
“Mungkin?” Ryeowook berbalik tanya. “Mungkin kita bersahabat di kehidupan yang sebelumnya.”
“Hehehe, ne! Kalau begitu, mari kita bersahabat!” ajak Kyuhyun bersemangat.


Kita akan menjadi sahabat untuk selama-lamanya, Kyuhyun-ah… sesuai janji… walau dunia kita telah berbeda, walaupun waktu telah berganti, kita akan menjadi sahabat, untuk selamanya….

END

2 komentar: