Selasa, 09 September 2014

IPB FAPERTA AGRONOMI DAN HORTIKULTURA ANGKATAN 51 :)



HALLOOOOOO
Long time no see :)
Lama nggak nongol, kini aku sudah menjadi mahasiswa Institut Pertanian Bogor angkatan 51 Fakultas Pertanian Departemen Agronomi dan Hortikultura.
Alhamdulillah lulus jalur SBMPTN, sekarang sudah melewati masa MPKMB, hidup di asrama sudah kurang lebih menginjak bulan kedua, dan menjalani rutinitas sebagai mahasiswa TPB IPB.


Foto bersama teman mengenakan jas almamater IPB ketika sedang latihan upacara Dies Natalis 51

Rabu, 16 Juli 2014

My Dear Friends...

(This is for different people, that's why I use numbers)

1. Hey, I read your post, and I was surprised to see you being mad like that. I just hoped that you weren't talking about me (well, not that I feel it was me), or ever felt that way about me. I wanted to ask whether you're okay or not, but silly me, of course you're not okay, you are freaking angry, how could you be okay? I don't even know whether I still have the right to ask something like that to you or not. But I'm glad to see your latest post, you're doing well. Thank you for remembering my birthday, anyway, hehe.

But hey. I just found this weird quote in a bookstore, I want to buy the thing but it was too expensive for me at the time lol. But. I really really want to say this to you:

YOU'LL ALWAYS BE MY FRIEND, YOU KNOW TOO MUCH ABOUT ME, DEAR

2. You... I am mad at you. I'm serious, no matter how I think about it I just can't help but feeling disappointed. Do you even still consider me as your friend? Just be honest because you're not treating me like one, years of friendship, feels like it's nothing for you. Okay, you're busy, but I am busy, everyone is busy, but no one, just no one, other than you from all people that I know, act like this towards someone they consider as a friend. I'm trying to understand just how busy you are right now but you don't even contact your so called best friends. or maybe we are not? maybe you've found better friends and you're so busy contacting them then you just somehow forget about us? if you have, good for you. It's just awesome how it seems that you don't even realize this. And thank you so much, for forgetting my birthday, my dear friend.
Oh no, I'm not mad at you because of that, it's just weird that even someone who I thought was not my friend anymore suddenly sent me a message, congratulated me for my birthday, even wished me the best for my life.

3. I'll give you back your novel, I promise, I've found it.

4. Can you just cut off your business and go to my treat? I'll treat you something delicious!!

5. Actually.... I didn't forget your birthday, I... missed the timing to congratulate you? We were in some kind of bad terms at that time so... I hope you understand... You didn't congratulate me for my birthday anyway :p huahahahahaha

6. I know that we met in twitter but can we be good friends? we're compatible and we all know that huahahahaha we can rule the world if we want kkkkk let's go to SS6 together shall we??

7. Well... you know, when I said that thing, I was being honest and I was afraid that you thought me as a mere spoiled kid and was too attached to you... but then you said the same thing. I trust you, I really do. Thank you, for feeling the same.

8. Stop taking selcas and take a pic of your arts please. I want to judge-ehem-see them.

9. I will not leave anyone behind, if one not going then that's it, no one will go. You are my friends and that's it. Don't ever say that you're not that close to me compared by someone else. Once you're my friend, then you're the same, no comparison.

10. HEY. From all people I never thought that you would congratulate me for my birthday because you were so cold to me for a damn year! But well, are we good now? :3 You'll let me torture you with my baby voice again now? :3

Jumat, 28 Maret 2014

Kebodohan di Tengah Hujan

by Nessa Maulida


Aku berdiri termenung, menatap jalanan kosong di hadapanku. Matahari telah terbenam, gelap, sudah seperti ini sejak lima belas menit yang lalu. Suara menakutkan terdengar dari langit, petir, menertawaiku kah? Aku melihat ke langit, aku sudah bisa melihat bulan yang tersamar di balik awan hitam. Awan hitam. Pasti hujan sebentar lagi. Bodoh, yang aku lakukan malah tetap berdiri, melihat jam untuk ketiga kalinya, dan terus menunggu.

Hah, apa yang aku harapkan sebenarnya? Dia datang begitu saja seperti pangeran? Bocah itu? Yang benar saja, aku memang terlalu banyak berkhayal. Memangnya diriku ini siapa hingga dia akan langsung menjemputku? Malam-malam begini pula, merepotkan orang saja diriku ini. 

Setetes air mendarat mulus di keningku, disusul oleh ratusan tetes air berikutnya, hujan telah tiba. Aku menghela napas dan membalikkan badan, mungkin dia memang tidak akan pernah datang. Namun aku malah menabrak sesuatu, aku nyaris terjatuh namun sesuatu menahanku begitu kuatnya hingga aku bahkan tidak sempat kehilangan tapak kakiku dari jalan setapak ini.

"Hei," katanya, suaranya familiar, bagaimana tidak, aku sudah mendengar suara itu nyaris seumur hidupku, sejak kami kecil, dari suaranya masih nyaring hingga berat seperti bass.

Aku menatapnya, matanya menatapku dengan penuh kejengkelan, namun yang kuperhatikan malah rambutnya yang basah, tetes demi tetes air hujan mengalir ke wajahnya yang seperti pahatan patung sempurna.

"Kenapa kau masih berdiri di sini?!" suaranya meninggi, membangunkanku dari lamunanku akan dirinya, ya, inilah dirinya, berbicara dengan nada penuh kejengkelan kepadaku, namun tetap saja dia datang kepadaku, tidak peduli betapa jengkelnya dia.

"Jangan diam saja, kau tidak membawa payung?" tanyanya, masih jengkel, aku benar-benar menahan senyumku, jangan sampai dia tahu betapa bahagianya aku sekarang.

Dia tidak sabar, dengan agak kasar dia mengambil tasku dari tanganku, dan membukanya. Ekspresinya menjadi jengkel dua kali lipat ketika dia menemukan sebuah payung lipat dari dalam tasku.

"Kau ini memang bodoh ya," katanya sambil membuka payungku. "Ayo jalan, kau mau dimarahi ibumu gara-gara kehujanan? Aku juga tidak mau kena getahnya nanti!"

Aku menatapnya balik, juga penuh dengan kejengkelan. Aku berjalan di sampingnya, dengan dia memegang payung. Mungkin lebih baik begitu, melihat dia memang jauh lebih tinggi dariku. Namun tidak, payung ini terlalu kecil untuk kami berdua.

"Bahumu basah..." kataku ketika melihat sisi tubuhnya yang basah karena tidak tertutup payung.

"Diamlah, jangan banyak bicara," katanya, tampak tidak peduli dengan hujan yang membasahi sisi tubuhnya.

Aku menutup mulutku, aku tahu aku tidak akan bisa menang melawan dia. Entah karena dia pintar bicara, atau aku terlalu sibuk mendengarkan suaranya yang semakin mengingatkanku akan bass, berat, dalam, dan membuatku merinding. Namun aku tahu aku tidak akan pernah lelah mendengarkannya. 

Aku malah ingin terus mendengarnya bicara.

Kami berjalan dalam diam, mengikuti jalan setapak yang tampak tidak ada ujungnya ini, padahal aku tahu rumahku hanya beberapa belokan lagi. Bisakah jalan ini diperpanjang? Setidaknya, walau hanya satu dua meter? Agar aku bisa bersamanya beberapa langkah lagi?

Sial memang, aku malah tersandung kerikil kecil. Dia menahanku lagi, aku tidak jadi jatuh lagi. Sebagai gantinya payungnya yang terjatuh. Aku kembali menatapnya, tatapannya yang lurus ke arahku, mata kami bertemu.

"Kau... benar-benar bodoh," katanya, entah sudah berapa kali dia memanggilku bodoh. Aku memang bodoh.

Aku kembali berdiri mantap pada tapak kakiku, dan dia mengambil payungnya. Kami kembali berjalan, menyusuri jalanan setapak ini. Aku tahu rumahku semakin dekat, namun bisakan kita berhenti walau hanya sejenak saja? Setidaknya, agar aku bisa berdiri di sampingnya sebentar lagi? Aku mengerti bila hujan ini semakin menertawakanku, karena aku yang selalu mengharapkan lebih, dan dia yang tidak mengharapkan apa-apa dariku. Mungkin, aku harap itu hanya di pikiranku.

Dia berhenti, aku berhenti, kenapa dia berhenti. Aku menatapnya dengan tatapan bodoh, rasanya salah sekali untuk merasa bahagia dengan melihat wajahnya sedekat ini, dan menatap matanya sedalam ini. Namun dia kembali membangunkanku dari pikiranku yang sesat, tatapannya kembali berubah menjadi tatapan jengkel.

"Kau diam saja? Tidak mau masuk rumah?" tanyanya, aku melihat ke depan, sudah pintu pagar rumahku.

Aku menggigit bibirku karena malu, aku tidak berani menatapnya, pasti dia menganggapku benar-benar bodoh sekarang, mungkin dia jengkel denganku, bagaimana kalau dia lelah terhadapku? Kalau dia tidak mau lagi datang karena panggilanku? Meninggalkanku sendirian di tengah hujan di lain waktu?

Tidak ada waktu lagi, aku harus segera menyingkir dari hadapannya, aku yakin itu yang dia inginkan sekarang. Dia pasti juga ingin segera pulang ke rumah, mengganti baju dan berselimut di atas kasur, dan melupakan gadis bodoh yang baru saja membuatnya basah-basahan malam ini.

Aku hendak pergi, namun aku merasa sesuatu menahanku, sesuatu menarik tanganku. Jantungku nyaris berhenti karena aku tahu apa itu, tangannya, yang besar dan kuat, yang sudah menahanku untuk jatuh beberapa kali hari ini. Aku dengan ragu menatapnya, dan dia menatapku, masih dengan tatapan jengkel. Secepatnya dia memberiku gagang payungku.

"Itu payungmu, jangan lupa," katanya.

Aku bahkan lupa akan payungku, dasar bodoh.

"Dan lain kali," dia mengelus kepalaku, sial. "Jangan menunggu hingga malam begini."

Jangan lakukan itu lagi, aku mohon.

"Hei bodoh," dia memanggilku, panggilanku darinya, bodoh. "Jangan memakai sepatu selicin itu di musim hujan begini, pakai jaket, kenapa kau memakai dress seperti itu? Kau mau mati kedinginan?"

Aku hanya ingin tampil cantik, bodoh. Untukmu.

"Jangan lupa bawa payung, aku rasa payung ini terlalu kecil, tidak ada yang lebih besar lagi?"

Dia terus berbicara, sedangkan aku hanya bisa menatapnya. Kenapa dia selalu melakukan ini? Ketika aku sudah yakin aku tidak akan memiliki kesempatan untuk bertemu dengannya lagi, dia menahanku dan membuatku semakin ingin terus bersamanya. Ini tidak adil.

Dia menyadari tatapanku kepadanya, dan entah bagaimana itu membuatnya diam. Dia tampak bingung, kenapa? Kalau saja aku tidak ragu, apakah pipinya yang menggemaskan itu baru saja memerah? Atau itu hanya pantulan konyol dari lampu rumahku?

"Yang penting... berhentilah membuatku khawatir, aku merasa bodoh, kau tahu?"

Kini aku yang menatapnya bingung, apa maksudnya? Kenapa dia merasa bodoh?

"Masuklah, jangan sampai ibumu meneleponku hanya untuk menanyakan keberadaanmu," katanya.

Aku mengangguk saja, aku juga tidak mau ibuku sampai meneleponnya setiap kali aku pulang malam. Kenapa juga ibuku selalu mengira aku bersamanya?

Aku membuka pintu gerbangku, dan dia tetap berdiri di situ, kehujanan, tidak bergerak. Apa yang dia lakukan? Dia tidak membawa payung?

"Kau... butuh payung?" tanyaku, tapi dia hanya menggeleng dan menyuruhku untuk masuk ke rumah.

Dengan ragu aku masuk ke rumah, sepi. Ayah dan ibu sedang makan malam di luar kah?

Aku meletakkan payungku di tempat payung, dan naik ke lantai dua, tempat kamarku berada. Dengan baju yang basah ini aku duduk di kasur, tidak peduli jika kasurku akan basah juga.

Dia masih di sanakah?

Diam-diam aku berjalan ke arah jendela kamarku, aku tidak tahu kenapa aku diam-diam begini, padahal tidak ada yang akan menangkap basah diriku sedang memperhatikannya.

Dia masih di sana.

Melihat ke arah kamarku, dia masih berdiri di tengah hujan, di depan gerbang rumahku, dan menatap lurus ke jendela kamarku. Aku agak takut dia menyadari aku sedang memperhatikannya, tapi aku tidak kuasa untuk terus menatap sosoknya di tengah hujan. Kenapa dia masih berdiri di sana? Bagaimana kalau dia sakit?

Aku memutuskan untuk mengganti baju dan segera tidur, kalau dia masih di situ juga, mungkin aku harus menelepon ke ponselnya dan menyuruhnya untuk pergi. Namun begitu aku mematikan lampu kamarku, aku melihatnya menghela napas panjang.

Entah mataku yang berhalusinasi karena kehujanan, tapi apakah dia tersenyum? Benarkah? Mataku tidak salah lihat?

Dia langsung melihat ke langit dan entahlah, tampaknya dia baru sadar kalau hujan semakin deras. Dia menatap lurus ke jendela kamarku sekali lagi, sebelum akhirnya berlari ke arah rumahnya.

Tidak tahu kenapa, aku tertawa kecil, "Bodoh, kenapa kau sendiri tidak membawa payung?"

Don't

Don't say yes when it's a 'no'
Don't say no when it's a 'yes'
Don't say sorry when you're not sorry
Don't act care when you don't care
Don't say it when you don't mean it
Don't agree when you feel wrong
Don't run when you can face it
Don't pretend but be real

Just please.

Sabtu, 08 Maret 2014

No It's Not

It's not hate, but guilt
It's not hate, but fear
It's not hate, but never care
It's not hate, but anger
It's not hate, but ego
It's not hate, but pride

It's not love, but caring
It's not love, but pity
It's not love, but a crush
It's not love, but fear
It's not love, but obsession
It's not love, but being nice

Guys, sometimes when you feel something towards someone, try to understand it more, you may misunderstand it.
Because when it's too late to realize, it'll hurt you, and people around you...

Jumat, 28 Februari 2014

Truth

Kebenaran, apa itu?
Kebenaran adalah yang benar, tapi melihat fakta di dunia, aku rasa tidak begitu.
Setelah melihat berbagai macam film, membaca novel, cerita dsbg, dan aku kaitkan dengan kehidupan real, ya, memang tidak sepenuhnya begitu.

"Bahkan suatu kebohongan akan menjadi kebenaran apabila semua orang memercayainya."

Got the point in that?

"Sebenarnya, kebenaran yang sesungguhnya tidaklah penting, karena pada akhirnya semua orang hanya akan percaya pada apa yang mereka ingin percayai."

Ya, aku menjadi semakin bingung, rasa percaya bahkan bisa meluluhkan kebenarannya, dan rasanya aku sendiri sedang melakukannya.
Memaksakan kebenaran, itu namanya ya? hmm...

Selasa, 18 Februari 2014

Kehilangan Rasa Peduli, Mengerikan?

Hai semua, lama tidak betul-betul nge-post akhir-akhir ini.
Pada saat ini seharusnya aku belajar fisika untuk TO besok, tapi suatu pikiran ini terus menerus datang dan tidak mau hilang.

Jadi, sebenarnya aku ini agak 'trauma' sama yang namanya berteman atau apalah, sosialisasi.
Apalagi sama orang-orang yang ada di tempat baruku ini. Aku masih merasa seperti alien di tengah-tengah mereka, kenapa aku berbeda sendiri?
Yah, kalau aku cerita aku nggak cocok sama mereka atau lingkungan sini mah, pasti dibilanginnya "adaptasi dong" "kamu sesuaikan diri kamu dong"

Bosan.

Aku sudah tiga tahun kok tinggal di sini. Satu-satunya hal yang aku pelajari di sini adalah bahwa orang-orang ini sangat berlawanan denganku.
Terus? Aku yang harus berubah demi mereka begitu? Bahkan setelah aku mengetahui kalau yang mereka lakukan melawan apa yang aku yakini dan melanggar sebagian besar prinsip hidupku?
Sudah cukup aku ganti aku-kamu dengan gua-lo.
Logatku bahkan masih suka ditertawakan. Berapa kali aku menangis gara-gara hal ini? Banyak.
Teruuuuus aku harus nge-fake gitu demi diterima oleh mereka? Sorry, tapi daripada aku jadi manusia munafik, nyiksa diri sendiri, mendingan aku sendirian saja di kelas.

Dan yah, harkos aliass harapan kosong, atau aku yang berharap terlalu banyak? Kepada mereka yang sudah mulai akan dekat denganku? Yang kupikir akhirnya menjadi teman-temanku?

Pada akhirnya aku hanya menghadapi satu kenyataan kalau mereka juga tidak mengerti jalan pikiranku.

OOOOH, AKU YANG HARUS NGERTIIN GITU?

Harus aku yang selalu mengerti mereka? Harus aku yang selalu memaklumi mereka? Harus aku yang ngalah terus kan? Karena aku yang alien? Begitu? Jadi aku yang salah, soalnya aku yang "beda", begitu? Oooh, jadi aku juga yang harus berubah, supaya aku diterima oleh mereka?

Capek woy.

Karena suatu kejadian yang memberikan tamparan keras kepadaku, aku pun berpikir.
Kenapa harus aku yang selalu mengerti mereka? Kenapa aku yang harus memaklumi mereka? Kenapa harus aku yang ngalah? Kenapa sebegitu salahnya untuk menjadi berbeda? Aku tidak melanggar hukum agama atau hukum negara ini kan?
Kenapa tidak mereka yang mengerti aku? Kenapa bukan mereka yang memaklumi aku? Kenapa bukan mereka yang mengalah? Kenapa mereka tidak mau terbuka dan menerima perbedaanku? Karena ini wilayah mereka?
Woy yang mau ke wilayah kalian juga bukan aku!! Aku bahkan tidak pernah mengatakan "Iya" ketika akan pindah ke sini!!
Kenapa harus aku yang begini ketika ini semua bukan mauku?

Dan kenapa mereka yang bisa sangat tega berlaku seakan-akan aku ini nggak ada? Yang jahat siapa? Yang salah siapa? Kenapa cuma aku yang merasa sakit?

Yah, setelah berpikir semua itu, satu pertanyaan sederhana muncul di kepalaku:

Kenapa aku harus peduli terhadap mereka?

Iya, kenapa aku harus peduli terhadap mereka? Mereka bahkan tidak peduli terhadapku, iya kan?

Sejak pemikiran itu muncul, aku tidak terlalu ambil pusing lagi. Aku berangkat sekolah seperti biasa, menganggap yang lain itu tidak ada, kecuali bagi mereka yang menganggap aku ada, ketika dibutuhkan.
Tapi, aku mulai merasa aneh. Aku merasa takut aku akan kehilangan rasa peduliku.

Sudah beberapa lama aku bahkan bingung, ketika seseorang jatuh, yang kulakukan hanya diam, dan berpikir, "Jatuh? Aku harus merasa apa tentang ini?"

Ketika ada yang menangis, "Ngapain dia nangis?"

Ketika ada yang sakit, "Semoga cepat sembuh" tapi aku bahkan tidak tahu apakah aku benar-benar mengharapkan dia sembuh.

Selama beberapa saat aku termenung, kenapa rasanya aku menjadi seseorang yang sangat menakutkan? Aku menjadi seseorang yang jahat, atau tidak? Karena aku hanya begini kepada mereka, yang menjadikan aku seperti ini.

Aku pun mencoba untuk peduli, tapi setiap saat, akan muncul pertanyaan "Apakah mereka menghargai kepedulianku? Mereka tidak juga berubah terhadapku."

Kata Kakakku, aku ini orang yang terlalu baik. 

Jadi orang baik itu ternyata benar-benar susah, karena aku tidak mau menjadi jahat. Aku ingin peduli lagi, walau aku tidak tahu apakah aku benar-benar peduli atau karena perasaan "harus peduli".
Aku hanya tidak ingin menjadi seperti mereka, yang dapat membuat orang merasa tembus pandang, yang tidak peduli terhadap orang yang berbeda.