Jumat, 28 Maret 2014

Kebodohan di Tengah Hujan

by Nessa Maulida


Aku berdiri termenung, menatap jalanan kosong di hadapanku. Matahari telah terbenam, gelap, sudah seperti ini sejak lima belas menit yang lalu. Suara menakutkan terdengar dari langit, petir, menertawaiku kah? Aku melihat ke langit, aku sudah bisa melihat bulan yang tersamar di balik awan hitam. Awan hitam. Pasti hujan sebentar lagi. Bodoh, yang aku lakukan malah tetap berdiri, melihat jam untuk ketiga kalinya, dan terus menunggu.

Hah, apa yang aku harapkan sebenarnya? Dia datang begitu saja seperti pangeran? Bocah itu? Yang benar saja, aku memang terlalu banyak berkhayal. Memangnya diriku ini siapa hingga dia akan langsung menjemputku? Malam-malam begini pula, merepotkan orang saja diriku ini. 

Setetes air mendarat mulus di keningku, disusul oleh ratusan tetes air berikutnya, hujan telah tiba. Aku menghela napas dan membalikkan badan, mungkin dia memang tidak akan pernah datang. Namun aku malah menabrak sesuatu, aku nyaris terjatuh namun sesuatu menahanku begitu kuatnya hingga aku bahkan tidak sempat kehilangan tapak kakiku dari jalan setapak ini.

"Hei," katanya, suaranya familiar, bagaimana tidak, aku sudah mendengar suara itu nyaris seumur hidupku, sejak kami kecil, dari suaranya masih nyaring hingga berat seperti bass.

Aku menatapnya, matanya menatapku dengan penuh kejengkelan, namun yang kuperhatikan malah rambutnya yang basah, tetes demi tetes air hujan mengalir ke wajahnya yang seperti pahatan patung sempurna.

"Kenapa kau masih berdiri di sini?!" suaranya meninggi, membangunkanku dari lamunanku akan dirinya, ya, inilah dirinya, berbicara dengan nada penuh kejengkelan kepadaku, namun tetap saja dia datang kepadaku, tidak peduli betapa jengkelnya dia.

"Jangan diam saja, kau tidak membawa payung?" tanyanya, masih jengkel, aku benar-benar menahan senyumku, jangan sampai dia tahu betapa bahagianya aku sekarang.

Dia tidak sabar, dengan agak kasar dia mengambil tasku dari tanganku, dan membukanya. Ekspresinya menjadi jengkel dua kali lipat ketika dia menemukan sebuah payung lipat dari dalam tasku.

"Kau ini memang bodoh ya," katanya sambil membuka payungku. "Ayo jalan, kau mau dimarahi ibumu gara-gara kehujanan? Aku juga tidak mau kena getahnya nanti!"

Aku menatapnya balik, juga penuh dengan kejengkelan. Aku berjalan di sampingnya, dengan dia memegang payung. Mungkin lebih baik begitu, melihat dia memang jauh lebih tinggi dariku. Namun tidak, payung ini terlalu kecil untuk kami berdua.

"Bahumu basah..." kataku ketika melihat sisi tubuhnya yang basah karena tidak tertutup payung.

"Diamlah, jangan banyak bicara," katanya, tampak tidak peduli dengan hujan yang membasahi sisi tubuhnya.

Aku menutup mulutku, aku tahu aku tidak akan bisa menang melawan dia. Entah karena dia pintar bicara, atau aku terlalu sibuk mendengarkan suaranya yang semakin mengingatkanku akan bass, berat, dalam, dan membuatku merinding. Namun aku tahu aku tidak akan pernah lelah mendengarkannya. 

Aku malah ingin terus mendengarnya bicara.

Kami berjalan dalam diam, mengikuti jalan setapak yang tampak tidak ada ujungnya ini, padahal aku tahu rumahku hanya beberapa belokan lagi. Bisakah jalan ini diperpanjang? Setidaknya, walau hanya satu dua meter? Agar aku bisa bersamanya beberapa langkah lagi?

Sial memang, aku malah tersandung kerikil kecil. Dia menahanku lagi, aku tidak jadi jatuh lagi. Sebagai gantinya payungnya yang terjatuh. Aku kembali menatapnya, tatapannya yang lurus ke arahku, mata kami bertemu.

"Kau... benar-benar bodoh," katanya, entah sudah berapa kali dia memanggilku bodoh. Aku memang bodoh.

Aku kembali berdiri mantap pada tapak kakiku, dan dia mengambil payungnya. Kami kembali berjalan, menyusuri jalanan setapak ini. Aku tahu rumahku semakin dekat, namun bisakan kita berhenti walau hanya sejenak saja? Setidaknya, agar aku bisa berdiri di sampingnya sebentar lagi? Aku mengerti bila hujan ini semakin menertawakanku, karena aku yang selalu mengharapkan lebih, dan dia yang tidak mengharapkan apa-apa dariku. Mungkin, aku harap itu hanya di pikiranku.

Dia berhenti, aku berhenti, kenapa dia berhenti. Aku menatapnya dengan tatapan bodoh, rasanya salah sekali untuk merasa bahagia dengan melihat wajahnya sedekat ini, dan menatap matanya sedalam ini. Namun dia kembali membangunkanku dari pikiranku yang sesat, tatapannya kembali berubah menjadi tatapan jengkel.

"Kau diam saja? Tidak mau masuk rumah?" tanyanya, aku melihat ke depan, sudah pintu pagar rumahku.

Aku menggigit bibirku karena malu, aku tidak berani menatapnya, pasti dia menganggapku benar-benar bodoh sekarang, mungkin dia jengkel denganku, bagaimana kalau dia lelah terhadapku? Kalau dia tidak mau lagi datang karena panggilanku? Meninggalkanku sendirian di tengah hujan di lain waktu?

Tidak ada waktu lagi, aku harus segera menyingkir dari hadapannya, aku yakin itu yang dia inginkan sekarang. Dia pasti juga ingin segera pulang ke rumah, mengganti baju dan berselimut di atas kasur, dan melupakan gadis bodoh yang baru saja membuatnya basah-basahan malam ini.

Aku hendak pergi, namun aku merasa sesuatu menahanku, sesuatu menarik tanganku. Jantungku nyaris berhenti karena aku tahu apa itu, tangannya, yang besar dan kuat, yang sudah menahanku untuk jatuh beberapa kali hari ini. Aku dengan ragu menatapnya, dan dia menatapku, masih dengan tatapan jengkel. Secepatnya dia memberiku gagang payungku.

"Itu payungmu, jangan lupa," katanya.

Aku bahkan lupa akan payungku, dasar bodoh.

"Dan lain kali," dia mengelus kepalaku, sial. "Jangan menunggu hingga malam begini."

Jangan lakukan itu lagi, aku mohon.

"Hei bodoh," dia memanggilku, panggilanku darinya, bodoh. "Jangan memakai sepatu selicin itu di musim hujan begini, pakai jaket, kenapa kau memakai dress seperti itu? Kau mau mati kedinginan?"

Aku hanya ingin tampil cantik, bodoh. Untukmu.

"Jangan lupa bawa payung, aku rasa payung ini terlalu kecil, tidak ada yang lebih besar lagi?"

Dia terus berbicara, sedangkan aku hanya bisa menatapnya. Kenapa dia selalu melakukan ini? Ketika aku sudah yakin aku tidak akan memiliki kesempatan untuk bertemu dengannya lagi, dia menahanku dan membuatku semakin ingin terus bersamanya. Ini tidak adil.

Dia menyadari tatapanku kepadanya, dan entah bagaimana itu membuatnya diam. Dia tampak bingung, kenapa? Kalau saja aku tidak ragu, apakah pipinya yang menggemaskan itu baru saja memerah? Atau itu hanya pantulan konyol dari lampu rumahku?

"Yang penting... berhentilah membuatku khawatir, aku merasa bodoh, kau tahu?"

Kini aku yang menatapnya bingung, apa maksudnya? Kenapa dia merasa bodoh?

"Masuklah, jangan sampai ibumu meneleponku hanya untuk menanyakan keberadaanmu," katanya.

Aku mengangguk saja, aku juga tidak mau ibuku sampai meneleponnya setiap kali aku pulang malam. Kenapa juga ibuku selalu mengira aku bersamanya?

Aku membuka pintu gerbangku, dan dia tetap berdiri di situ, kehujanan, tidak bergerak. Apa yang dia lakukan? Dia tidak membawa payung?

"Kau... butuh payung?" tanyaku, tapi dia hanya menggeleng dan menyuruhku untuk masuk ke rumah.

Dengan ragu aku masuk ke rumah, sepi. Ayah dan ibu sedang makan malam di luar kah?

Aku meletakkan payungku di tempat payung, dan naik ke lantai dua, tempat kamarku berada. Dengan baju yang basah ini aku duduk di kasur, tidak peduli jika kasurku akan basah juga.

Dia masih di sanakah?

Diam-diam aku berjalan ke arah jendela kamarku, aku tidak tahu kenapa aku diam-diam begini, padahal tidak ada yang akan menangkap basah diriku sedang memperhatikannya.

Dia masih di sana.

Melihat ke arah kamarku, dia masih berdiri di tengah hujan, di depan gerbang rumahku, dan menatap lurus ke jendela kamarku. Aku agak takut dia menyadari aku sedang memperhatikannya, tapi aku tidak kuasa untuk terus menatap sosoknya di tengah hujan. Kenapa dia masih berdiri di sana? Bagaimana kalau dia sakit?

Aku memutuskan untuk mengganti baju dan segera tidur, kalau dia masih di situ juga, mungkin aku harus menelepon ke ponselnya dan menyuruhnya untuk pergi. Namun begitu aku mematikan lampu kamarku, aku melihatnya menghela napas panjang.

Entah mataku yang berhalusinasi karena kehujanan, tapi apakah dia tersenyum? Benarkah? Mataku tidak salah lihat?

Dia langsung melihat ke langit dan entahlah, tampaknya dia baru sadar kalau hujan semakin deras. Dia menatap lurus ke jendela kamarku sekali lagi, sebelum akhirnya berlari ke arah rumahnya.

Tidak tahu kenapa, aku tertawa kecil, "Bodoh, kenapa kau sendiri tidak membawa payung?"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar