Selasa, 18 Februari 2014

Kehilangan Rasa Peduli, Mengerikan?

Hai semua, lama tidak betul-betul nge-post akhir-akhir ini.
Pada saat ini seharusnya aku belajar fisika untuk TO besok, tapi suatu pikiran ini terus menerus datang dan tidak mau hilang.

Jadi, sebenarnya aku ini agak 'trauma' sama yang namanya berteman atau apalah, sosialisasi.
Apalagi sama orang-orang yang ada di tempat baruku ini. Aku masih merasa seperti alien di tengah-tengah mereka, kenapa aku berbeda sendiri?
Yah, kalau aku cerita aku nggak cocok sama mereka atau lingkungan sini mah, pasti dibilanginnya "adaptasi dong" "kamu sesuaikan diri kamu dong"

Bosan.

Aku sudah tiga tahun kok tinggal di sini. Satu-satunya hal yang aku pelajari di sini adalah bahwa orang-orang ini sangat berlawanan denganku.
Terus? Aku yang harus berubah demi mereka begitu? Bahkan setelah aku mengetahui kalau yang mereka lakukan melawan apa yang aku yakini dan melanggar sebagian besar prinsip hidupku?
Sudah cukup aku ganti aku-kamu dengan gua-lo.
Logatku bahkan masih suka ditertawakan. Berapa kali aku menangis gara-gara hal ini? Banyak.
Teruuuuus aku harus nge-fake gitu demi diterima oleh mereka? Sorry, tapi daripada aku jadi manusia munafik, nyiksa diri sendiri, mendingan aku sendirian saja di kelas.

Dan yah, harkos aliass harapan kosong, atau aku yang berharap terlalu banyak? Kepada mereka yang sudah mulai akan dekat denganku? Yang kupikir akhirnya menjadi teman-temanku?

Pada akhirnya aku hanya menghadapi satu kenyataan kalau mereka juga tidak mengerti jalan pikiranku.

OOOOH, AKU YANG HARUS NGERTIIN GITU?

Harus aku yang selalu mengerti mereka? Harus aku yang selalu memaklumi mereka? Harus aku yang ngalah terus kan? Karena aku yang alien? Begitu? Jadi aku yang salah, soalnya aku yang "beda", begitu? Oooh, jadi aku juga yang harus berubah, supaya aku diterima oleh mereka?

Capek woy.

Karena suatu kejadian yang memberikan tamparan keras kepadaku, aku pun berpikir.
Kenapa harus aku yang selalu mengerti mereka? Kenapa aku yang harus memaklumi mereka? Kenapa harus aku yang ngalah? Kenapa sebegitu salahnya untuk menjadi berbeda? Aku tidak melanggar hukum agama atau hukum negara ini kan?
Kenapa tidak mereka yang mengerti aku? Kenapa bukan mereka yang memaklumi aku? Kenapa bukan mereka yang mengalah? Kenapa mereka tidak mau terbuka dan menerima perbedaanku? Karena ini wilayah mereka?
Woy yang mau ke wilayah kalian juga bukan aku!! Aku bahkan tidak pernah mengatakan "Iya" ketika akan pindah ke sini!!
Kenapa harus aku yang begini ketika ini semua bukan mauku?

Dan kenapa mereka yang bisa sangat tega berlaku seakan-akan aku ini nggak ada? Yang jahat siapa? Yang salah siapa? Kenapa cuma aku yang merasa sakit?

Yah, setelah berpikir semua itu, satu pertanyaan sederhana muncul di kepalaku:

Kenapa aku harus peduli terhadap mereka?

Iya, kenapa aku harus peduli terhadap mereka? Mereka bahkan tidak peduli terhadapku, iya kan?

Sejak pemikiran itu muncul, aku tidak terlalu ambil pusing lagi. Aku berangkat sekolah seperti biasa, menganggap yang lain itu tidak ada, kecuali bagi mereka yang menganggap aku ada, ketika dibutuhkan.
Tapi, aku mulai merasa aneh. Aku merasa takut aku akan kehilangan rasa peduliku.

Sudah beberapa lama aku bahkan bingung, ketika seseorang jatuh, yang kulakukan hanya diam, dan berpikir, "Jatuh? Aku harus merasa apa tentang ini?"

Ketika ada yang menangis, "Ngapain dia nangis?"

Ketika ada yang sakit, "Semoga cepat sembuh" tapi aku bahkan tidak tahu apakah aku benar-benar mengharapkan dia sembuh.

Selama beberapa saat aku termenung, kenapa rasanya aku menjadi seseorang yang sangat menakutkan? Aku menjadi seseorang yang jahat, atau tidak? Karena aku hanya begini kepada mereka, yang menjadikan aku seperti ini.

Aku pun mencoba untuk peduli, tapi setiap saat, akan muncul pertanyaan "Apakah mereka menghargai kepedulianku? Mereka tidak juga berubah terhadapku."

Kata Kakakku, aku ini orang yang terlalu baik. 

Jadi orang baik itu ternyata benar-benar susah, karena aku tidak mau menjadi jahat. Aku ingin peduli lagi, walau aku tidak tahu apakah aku benar-benar peduli atau karena perasaan "harus peduli".
Aku hanya tidak ingin menjadi seperti mereka, yang dapat membuat orang merasa tembus pandang, yang tidak peduli terhadap orang yang berbeda.